Just another WordPress.com site

SQ… Makhluk apa itu??

Ini tugas terakhir mata kuliah CI….  Sebenernya ini jadi tugas yang lumayan susah buatku…

Soalnya masih ga ada bayangan tentang spiritual Creativity… Tapi setelah baca tulisan pak Apiq, okee… aku udh dapat poin-poinnya..… here it is …

 

Spiritual Creativity itu bagian dari Spiritual Quotient…. Dulu orang bilang IQ patokan intelegensi…. Berlanjut disaat orang banyak berkata bahwa EQ juga hal yang penting untuk menunjang IQ bahkan banyak yang bilang.. IQ jenius tanpa EQ yang baik sama aja bo’ong….

Sekarang Spiritual Quotient juga jadi hal yang baru muncul dalam isu intelegensia manusia.

Saya agak terkejut karena menurut dari berbagai referensi yang saya baca.. ternyata di otak kita terdapat ruang dan tempat tersendiri untuk memahami kejadian-kejadian spiritual dan memahami adanya Tuhan  sehingga membuat seseorang dapat memaknai hidupnya.

Banyak yang menyamaratakan Emotional Quotient dengan Spiritual Quotient, padahal kedua hal ini adalah berbeda.

Emotional Quotient lebih diartikan kepada keahlian intrapersonal, keluwesan, dan pengontrolan emosi. Sedangkan spiritual Quotient merupakan kecerdasan seseorang untuk memaknai hidupnya dan menghubungkannya dengan alam, orang lain, dirinya dan juga Tuhan yang maha Esa.

Menariknya, orang yang cerdas secara emosional ciri-cirinya bisa jadi berbuah negatif atau pun positif… Orang yang cerdas secara emosional bisa jadi menggunakan kelebihannya untuk memanipulasi dan berujung kepada hal-hal buruk.Sedangkan ciri-ciri orang dengan SQ yang tinggi sudah dapat dipastikan merupakan orang yang positif , suka menolong, berbudi , dan bermanfaat.Untuk itu EQ masih perlu diimbangi dengan SQ.

Jika ada pikiran bahwa kecerdasan spiritual sama dengan tingkat kereligiusan itu juga kurang tepat…

Cerdas SQ bukan sekedar rajin shalat Jumat atau rajin pergi ke gereja ternyata…. SQ itu sebenarnya juga berarti cara bagaimana seseorang memaknai hidupnya… bagaimana seseorang dapat memandang tujuan hidupnya.. bagaimana seseorang dapat berguna.. dan bagaimana seseorang dapat mengatasi segala situasi dengan rasa syukur.

Sekarang saya mulai berpikir untuk meninjau bagaimana SQ saya sebenarnya… Saya masi sering kali mengeluh.. menggerutu dan masih tidak ahli untuk mengubah kondisi yang kurang “favorable” menjadi hal yang harusnya saya syukuri….

Contohnya… disaat ada motor dijalanan yang  memotong jalan.. seringkali saya jadi meledak-ledak sendiri…. Atau mungkin disaat kurang puas dengan pelayanan sebuah supermarket, tanpa terkontrol mungkin saya jadi marah-marah sana sini….

Sikap-sikap diatas sebenarnya membutuhkan SQ untuk merubah kebiasaan saya yang suka uring-uringan klo ada hal yang gak “favorable”…

Padahal sebenarnya saya bisa saja mengendalikan emosi dan merubah keadaan yang tidak mengenakan itu menjadi sebuah hal yang dapat saya syukuri dengan kecerdasan spiritual yang ada.

Mungkin dulu Albert Einstein tanpa sadar terlah membahas tentang SQ kali yaa…. Dia pernah mengungkapkan teori relativitas yang menurut saya ada sangkutannya dengan SQ… teori relativitas Einstein mungkin bisa membantu untuk meningkatkan SQ… Sesuatu yang panas sebenarnya dapat berubah menjadi dingin dengan kekuatan pikiran dan sugesti seseorang, begitu juga pada suatu kondisi  yang tidak menyenangkan sebenarnya otak kita dapat mengubah pandangan tersebut menjadi hal-hal yang positif.

 

Lalu gimana sih caranya cerdas spiritual??

Untuk cerdas secara spiritual mutlak dibutuhkan rasa syukur…. Mau makan.. bersyukur… mau tidur bersyukur… dikemacetan bersyukur… apapun itu kita wajib bisa mensyukurinya sehingga kita dapat lebih memaknai hidup…

Siapkan Visi dan Misi sehingga hidup kita akan lebih jelas dan terarah… Perbuatan-perbuatan kita akan lebih efektif.. terarah dan postif. Setiap perbuatan kita dapat dimaknai seiiring dengan tercapainya tujuan..

Perbanyak Ibadah tentunya… bukan sembarang ibadah tapi juga dibutuhkan penerimaan terhadap hal-hal spiritual yang mengantarkan kita pada makna hidup yang sesungguhnya kepada Tuhan YME. Kalo kita bener-benar bisa mengimani hal tersebut Insya Allah segala perbuatan kita akan tertuju pada Tuhan…

Cara yang terakhir sudah saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari… Saya pernah membaca buku “7habits of highly effective teenagers” disaat saya berumur 19 tahun (agak telat memang) , Buku itu menyarankan untuk selalu mengingat bahwa di jidat kita selalu ada tombol “PAUSE”. Disaat kemarahan mulai terpancing dan saya hampir meledak-ledak… simply click “PAUSE” on my forehead dan setelahnya saya akan berhasil menahan kemarahan dan tidak meledak. Setelah saya lakukan hal tersebut, saya justru merasa lebih baik daripada saya meledak-ledak.. saya mulai dapat berpikir jernih dan memandang kondisi yang kurang baik dari kacamata lain sehingga saya dapat memandangnya lebih positif….

Gimana?? Mau coba?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: